Langsung ke konten utama

Sumpah Pemuda dan Sumpah “Tonggeret”

Mereka katakan bertumpah darah yang satu, tapi ku perhatikan, tak setetespun darah tertumpah

Mereka mengaku berbangsa yang satu, tapi kurasakan mereka membanggakan bangsa-bangsa nya sendiri

Mereka pun menjunjung tinggi bahasa persatuan, tapi kudengar keangkuhan bahasa mulut mengalahkan bahasa hati

Tonggeret
menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Tonggeret
mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Tonggeret
bertumpah darah yang satu, Darah Tonggeret

Pemuda dan tonggeret
Sama-sama bersumpah
Pemuda dengan lantangnya
Tonggeret dengan dzikirnya


Cimahi, 28 Oktober 2009
Rurousha Alhasan Abdullah
Eka Sugandi

Komentar

  1. tonggeret itu dimana sih? *bingung*

    BalasHapus
  2. Tonggeret itu bahasa sunda, kalo mau tau di googling ajah, karena saya cari bahas indonesianya belum nemu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

1st post

Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh ba'da tahmid dan salawat Setelah belasan blog sya buat, ternyata inilah blog pribadi yang bener benerepribadi aku buat, semoga di postingan pertama ini bisa memberikan manfaat pada pembaca yang lainnya. amiin Wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh

M+(F-1)

Lama tak berpuisi karena sudah ada yang mengisi hati Lama tak berkarya karena sudah ada si Dia Lama tak berangan Karena dia sudah jadi pasangan F-1 Buka efwan Bukan F-one Bukan ef1 Tapi Fisika-1  Tapi 1 huruf sebelum itu Ialah Aku M Betul memang matematika Tapi lebih betul itu huruf pertama Si Dia yang mengisi hati Ah... Aku orang saintis Tak bisa romantis Sepuitis kata-kata manis Sudahlah Si dia kini mengisi setiap hari hati ini Biarlah kita seperti hubungan fisika dan matematika Karena kita Adalah  (F-1)ka dan Mira Guru Fisika dan Guru Matematika _____---_____

LAMARANMU KUTOLAK!

(Kisah Sederhana, Jenaka tapi Penuh Makna) Dari milis, dan kata dari milis itu dari milis tetangga, pas dilihat, ternyata dari milis tetangga juga, jadi saya tak tau dari mana ini sumber aslinya, tapi ndak apa-apa, lumayan unutk sharing. Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah. Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda. Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut' sang perempuan muda, dari sisinya.