Kenapa kita merasa ngeri ketika berhadapan dengan singa?
Apakah takut dengan taringnya?
Apakah takut dengan taringnya?
Apakah takut dengan kuku-kuku dan cakarnya yang tajam?
Apakah takut dengan belangnya?
Apakah takut dengan sorot matanya?
Apakah takut dengan auman suaranya?
Apakah takut dengan terkamannya?
Dengan singa yang ompong pun kita masih merasa takut menghadapinya.
Tapi sekali lagi saya bertanya, apakah yang menyebabkan kita takut sama singa? Jawaban sederhananya adalah karena singa tersebut masih punya ruh.
Seandainya ruh singa sudah keluar dari raganya, maka kita pasti tidak akan takut lagi sama taringnya, bahkan mulutnya bisa kita buka selebar-lebarnya. Kita tak akan takut lagi sama sorot matanya, bahkan matanya bisa dicolok kapan saja tanpa perlawanan. Kita tidak takut lagi sama kukunya, bahkan kaki-kakinya yang kuat bisa dipatahkan dengan mudah. Kita tidak takut lagi sama suaranya, bahkan kita bisa berteriak nyaring dikupingnya. Kita tak takut lagi sama terkamannya, bahkan kita bisa menampar dan memukul perutnya sekeras-kerasnya tanpa perlawanan. Tanpa ruh, singa tak perlu ditakuti. Singa dengan ruh kambing atau rusa tak pernah tercatat dalam sejarah kebinatangan. Hanya singa dengan ruh singa yang akan tampak berwibawa, berpengaruh, disegani sekaligus ditakuti.
Umat Islam dewasa ini sudah tak punya wibawa seperti singa. Negeri mereka dicabik-cabik serta dijajah. Kekayaan alam mereka dirampok. Tenaga kerjanya diperas dan dibayar dengan upah murah. Sistem ekonomi dan perbankan dikangkangi kapitalis, IMF dan World Bank. Disini, di Indonesia, negeri yang seharusnya kaya, malah terlilit utang. Tak ada yang berani bangkit memperbaiki keadaan apalagi melawan. Bukan karena tak punya gigi atau taring apalagi sekedar kuku dan cakar. Melainkan karena tak punya ruh Islam.
Momentum ramadhan, semestinya dimanfaatkan untuk menghidupkan ruh Islam didalam jiwa kita masing-masing. Sama seperti tahun-tahun yang sudah, ramadhan dimaknai hanya sebagai ritual tahunan yang didalamnya hanya ada sahur, shoum, tarawih dan witir. Tak ada perubahan. Tak ada kemajuan dalam mengeja siroh nabawiyah. Jejak generasi Islam pertama yang dipenuhi oleh ruh Islam dan kepahlawanan seakan tenggelam dalam kesibukan rutinitas kerja ditambah dengan kesibukan tambahan di dapur untuk mempersiapkan hidangan berbuka dan makan sahur. Lepas dari pada itu, yang ada hanya menguap, ngantuk dan tidur pulas karena kekenyangan.
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna berkomentar terhadap mereka yang betah bernaung di dalam rumah tarbiyah. Beliau berkata, antum ar-ruhhul jadid fii jasadil ummah (Kalian adalah ruh-ruh baru yang mengalir di jasad ummat ini). Semoga kita tercatat sebagai orang yang memiliki ruh baru yang mampu menggelorakan semangat untuk memperbaiki nasib ummat Islam. Wallahu’alam.
-sprynt-
sumber: beranda.blogsome
Komentar
Posting Komentar